“Nanti malam tidur dimana ya?”

           Pada saat saya duduk dibangku kelas 4 SD tepatnya saat saya berusia 9 tahun saya mengalami suatu kejadian yang sangat-sangat mengesankan dalam hidup saya dan tak pernah bisa terlupakan.

           Awalnya ketika itu, saya bersama sepupu saya yang bernama Nida berusia 6 tahun ditawarkan untuk mengikuti kursus bahasa inggris di bilangan Kalibata Jakarta Selatan oleh kakak tertua saya. Karena kami akan kursus bersama alias sekelas, maka kami pun memutuskan untuk mengikui kursus itu.

           Hari pertama kursus pun tiba, dan kami diantarkan ke tempat kursus tersebut oleh kakak saya dengan menggunakan sepeda motor. Saya dibonceng oleh kaka saya dibelakang sedangkan Nida duduk di depan. Seperti biasa saat  sepanjang perjalanan saya selalu meliahat kesekeliling jalan raya karena banyak sekali objek menarik dijalanan.

           Kami pun tiba di tempat kursus dan kakak saya pun meninggalkan kami dengan mengatakan “nanti kakak jemput jam setengah 4”. Kami pun masuk keruang kursus dan menikuti semua pelajaran yang diberikan saat itu.

           Waktu pun berlalu dan kursus bahasa inggris hari itu pun berakhir. Saya dan Nida keluar gedung kursus tersebut dan mencari kakak saya yang berjanji akan menjemput kami pukul setengah 4. Setelah kami melihat jam ternyata saat itu waktu menunjukan pukul setengah 3. Ternyata kakak saya salah mengetahui bahwa waktu berakhirnya kursus tersebut bukannya jam ½ 4 akan tetapi ½ 3.

           Semua teman sekelas kami sudah pulang satu persatu dengan jemputan orang tuanya menggunakan mobil. Kami pun bingung harus melakukan apa. Saya sebagai yang tertua saat itu mengambil keputusan untuk pulang jalan kaki kerumah. Sebelumnya saya bertanya kepada Nida apakah Ia ingat jalan pulang. Dan Nida pun menjawab ia tak ingat. Akan tetapi dengan percaya dirinya saya memutuskan untuk pulang jalan kaki walaupun saat itu saya tidak tahu arah jalan pulang dan tidak membawa uang sepeserpun. Yang menjadi modal saya saat itu hanyalah ingatan saat perjalanan tadi menuju tempat kursus.

           Kami pun mulai melangkahkan kaki kami dengan rasa takut dan cemas. Kmi terus berjalan tanpa henti dan tanpa tahu harus kemana. Hingga saat kami menemukan sebuah rel kereta tepatnya di daerang Volvo saya pun mengingat daerah tersebut karena saya dan kakak saya sering membeli nasigorenga di daerah tersebut. Akan tetapi yang saya kenali hanyalah rel kereta tersebut, bukan arak pulang menuju kerumah kami.

           Kemudian kami pun menyebrangi rel kereta tersebut bersama kendaraan lain yang menyeberang. Saya pun hampir putus asa, dan sempat terlintas dalam benak saya “nanti malem mau tidur dimana ya?”. Saat itu ada sopir angkot yang mungkin kasihan kepada kami menawarkan untuk kami ikut naik ke angkotnya. Saya pun sempat berfikir untuk menumpang akan tetapi kami menolak. Memang benar tindakan saya untuk menolak karena angkot tersebut jalan menjauhi arah rumah saya.

           Setelah kami berjalan terus menerus saya pun semakin tidak mengenali daerah tersebut. Dan kami pun memutuskan untuk berjalan ke arah yang berlawanan alias kembali kea rah rel kereta tadi.

           Kondisi jalan saat itu sangatlah becek dikarenakan habis terguyur hujan. Karena kami mengenakan celana panjang, bagian bawah celana kami pun kotor terkena air becekan yang kotor. Nida pun mulai menangis karena kelelahan dan takut. Karena saya lebih tua dibandingkan Nida, saya pun mencoba untuk menenangkannya.

           Sebelum kami sampai untuk menyebrangi rel kereta yang kami seberangi tadi, kami pun melewati warung bakso yang ada di pinggir jalan. Ada seorang ibu penjual bakso yang menanyakan “Mau kemana dek?” kami pun menjawab “Mau pulang.”. Kemudian ibu tersebut mengetahui bahwa kami adalah anak-anak yang sedang tersesat. Ibu itu terus bertanya tentang dari mana dan mau kemana, dimana rumah kami, siapa orang tua kami, dan banyak lagi.

           Setelah banyak bertanya Ibu penjual bakso itu pun memanggil suaminya yang sedang berjualan dan meminta untuk mengantarkan kami pulang ke rumah. Kami berdua pun diantarnya dengan menggunakan sepeda motor.

          Di perjalanan pulang, ada mobil yang terus mengklaksoni kami dan si pengemudi it uterus berteriak. Ternyata yang ada dalam mobil tersebut adalah kaka pertama saya bersama suaminya yang sedang mencari kami.

           Tukang bakso yang mengatar kami pun menghentikan motornya, dan menanyakan apakah kami mengenal orang yang di mobil tersebut. Kami pun menjawab “saya kenal !”. Kemudian Kakak saya dan suaminya pun turun dari mobil dan menghampiri kami. Kami pun disuruh langsung masuk kemobil dan kakak ipar saya pun melakukan sedikit perbincangan dengan orang yang ingin mengantar kami. Saat kami masuk kedalam mobil hingga sampai di rumah kami pun tidak berhenti menangis.

           Setelah sampai dirumah kami pun menceritakan semua kejadian yang telah terjadi sambil menangis tersedu-sedu. Keesokan harinya saya, Nida, kakak pertama saya dan suaminya pergi mengunjungi warung bakso milik orang yang ingin mengantar saya pulang waktu itu. Kami pun makan di kedai bakso tersebut dan melakukan perbincangan-perbincangan hangat dengan pemilik kedai. Setelah makan berakhir Suami kakak saya pun memberikan uang atas baksonya dan uang atas ucapan terima kasih kami kepada mereka.

           Tidak pernah terbayangkan hal apa yang akan terjadi jika saya tidak dapat berkumpul lagi dengan orang-orang terkasih saya. Ini akan menjadi sebuah pengalaman dalam hidup saya yang tak akan terlupa dan menjadi kenangan yang sangat unik untuk diceritakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s