USAHA KECIL DAN MENENGAH

I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Usaha kecil dan menengah merupakan pelaku bisnis yang bergerak pada berbagai bidang usaha, yang menyentuh kepentingan masyarakat. UKM memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Semenrtara itu, UKM juga memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). UKM dapat mempunyai prospek yang cukup baik dan memilki potensi besar untuk dikembangkan. Hal ini didukung dengan beberapa produk UKM yang selama ini dikenal sebagai produk ekspor nonmigas dari negara kita, antara lain produk pertanian, perkebunan, perikanan, tekstil dan garmen, furniture, produk industri pengolahan, dan barang seni. Produk UKM dalam kegiatan ekspor lebih banyak dilaksanakan oleh pengusaha-pengusaha besar atau eksportir yang mampu mereduksi, bahkan mengeliminasi hambatan-hambatan yang ada. Dalam upaya mereduksi atau bahkan mengeliminasi berbagai hambatan UKM dalam kegiatan ekspor tersebut, diperlukan dukungan pemerintah melalui suatu kebijakan yang implementatif.

Selama ini perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia mendapat perhatian serius baik dari pemerintah maupun kalangan masyarakat luas terutama karena kelompok unit usaha tersebut menyumbangkan sangat banyak kesempatan kerja dan oleh karena itu menjadi salah satu sumber penting bagi penciptaan pendapatan. Selain itu UKM juga berperan sebagai salah satu sumber penting bagi pertumbuhan PDB dan eksport nonmigas, khususnya ekspor barang-barang manufaktur. Karena pentingnya peran ini, maka secara metodologi, perkembangan UKM di dalam suatu ekonomi selalu diukur dengan tiga indikator, yaitu jumlah L, NO atau NT, dan nilai X dari kelompok usaha tersebut, baik secara absolut maupun relatif terhadap usaha besar (UB).

II

ISI

Definisi Usaha Kecil dan Menengah

Usaha kecil merupakan usaha yang mempunyai jumlah tenaga kerja kurang dari 50 orang, atau berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999 kategori usaha kecil adalah yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,00 (tidak termasuk tanah dan bangunan); penjualan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00; milik Warga Negara Indonesia, bukan afiliasi badan usaha lain (berdiri sendiri), dan berbentuk usaha perorangan, badan usaha, atau koperasi.

Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menegkop & UKM) mendefinisikan usaha kecil (UK), termasuk usaha mikro (UMI), sebagai suatu badan usaha milik warga Negara Indonesia, baik perorangan maupun berbadan hokum yang memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk tanah dan bangunan sebanyak-banyaknya Rp. 200 juta dan atau mempunyai NO atau hasil penjualan rata-rata per tahun sebanyak Rp. 1 Miliar dan usaha tersebut berdiri sendiri. Badan usaha milik warga Negara Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dariRp. 200 juta sampai dengan Rp 10 miliar tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha didefinisikan sebagai usaha menengah (UM). Badan usaha dengan nilai asset dan omset di atas itu adalah UB.

Sedangkan Biro Pusat Statistika (BPS) mendefinisikan skala usaha berdasarkan jumlah L. UK adalah perusahaan (baik yang bebbadan hokum atau tidak) yang mempunyai L 5-19 orang termasuk pemilik usaha atau pengusaha, dan UMI adalah usaha dengan L antara 1-4 orang. Sedangkan UM adalah perusahaan yang mengerjakan 20-99 orang, dan perusahaan dengan jumlah L lebih dari 99 orang dikategorikan sebagai UB.

UKM terdapat di semua sektor ekonomi, termasuk di industri manufaktur dan perdagangan. Oleh karena industri dan dagang kecil (IDK) tergolong dalam batasan UK menurut Undang-undang No. 9 tahun 1995 tentang UK, maka batasan IDK didefinisikan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorang atau rumah tangga Maupun suatu badan, bertujuan untuk memproduksi barang maupun jasa untuk diperniagakan secara komersial yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp 1 miliar atau kurang. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS, yaitu berdasarkan criteria jumlah L sudah mulai juga digunakan oleh Deperindag, yakni sebagai berikut. Industri dan dagang mikro (IDMI) : 1-4 orang; industri dan dagang kecil (IDK): 20-99 orang, dan industri dan dagang besar (IDB): 100 orang atau lebih.

Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”

Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut:

  • Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
  • Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah)
  • Milik Warga Negara Indonesia
  • Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar
  • Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

 

Kriteria Usaha Kecil dan Menengah Menurut Beberapa Lembaga

  1. Meneg Koperasi dan UKM
  • Usaha Kecil (Undang-Undang No.9/1995 tentang Usaha Kecil)

Aset lebih kecil dari Rp.200 Juta diluar tanah dan bangunan. Omzet tahunan lebih kecil dari Rp.1 milyar. Dimiliki oleh orang Indonesia independen, tidak terafiliasi dengan usaha menengah, besar.Boleh berbadan hukum, boleh tidak.

  • Usaha Menengah (Inpres 10/1999) Aset Rp.200 Juta – Rp.10 milyar.

  1. Badan Pusat Statistik (BPS)
  • Usaha Kecil jumlah Pekerja 5-19 orang
  • Usaha Menengah jumlah Pekerja 20-99 orang

  1. Bank Indonesia
  • Usaha Kecil (Undang-Undang No.9/1995 tentang Usaha Kecil)

Aset lebih kecil dari Rp.200 Juta diluar tanah dan bangunan. Omzet tahunan lebih kecil dari Rp.1 milyar. Dimiliki oleh orang Indonesia independen, tidak terafiliasi dengan usaha menengah, besar.Boleh berbadan hukum, boleh tidak.

  • Usaha Menengah (SK Dir BI No.30/45/Dir/UK tgl 5 Jan 1997)

Aset lebih kecil dari Rp.5 milyar untuk sektor industri. Aset lebih kecil dari Rp.600 juta diluar tanah dan bangunan untuk sektor non-industri manufacturing. Omzet tahunan lebih kecil dari Rp.3 milyar

  1. Bank Dunia
  • Kecil-Menengah jumlah Pekerja 20-150 orang Aset lebih kecil dari US$ 500 ribu diluar tanah dan bangunan

  1. Dep.Perindustrian
  • Industri Kecil

Aset lebih kecil dari Rp.200 Juta diluar tanah dan bangunan. Omzet tahunan lebih kecil dari Rp.1 milyar. Dimiliki oleh orang Indonesia independen, tidak terafiliasi dengan usaha menengah, besar. Boleh berbadan hukum, boleh tidak.

Menjalankan Usaha Kecil dan Menengah

Sebelum anda menjalankan usaha kecil atau menengah, anda harus memperhatikan hal-hal berikut ini :

  1. Pilihlah usaha yang menurut Anda cocok untuk diri Anda.
  2. Jangan ada perasaan takut untuk gagal karena segala sesuatu mempunyai resiko. Dan anda harus siap dengan segala resiko yang terjadi.
  3. Usahakan semaksimal mungkin untuk meminimalisir resiko.
  4. Atur keuangan dengan sebaik-baiknya.
  5. Jangan mengucilkan diri, anda harus membaur dengan orang disekitar anda, artinya anda harus dekat dengan mereka. Jika anda menurut mereka angkuh atau sombong. Maka mereka akan manjauhi anda.
  6. Teliti setiap kesalahan anda yang menyebabkan kemunduran usaha anda. Dan perbaiki itu.
  7. Pandai-pandailah mebaca celah bisnis yang ada.

Itu adalah sebagian dari hal-hal yang patut anda perhatikan untuk menjalnkan usaha kecil anda. Jadi, peluang usaha kecil atau menengah yang menguntungkan itu ada, dan anda sendirilah yang harus menciptakannya.

Jenis Usaha UKM untuk Menghasilkan Laba

Ada 3 jenis usaha yang bisa dilakukan oleh UKM untuk menghasilkan laba.

Ketiga jenis usaha tersebut adalah :

1. Usaha Manufaktur (Manufacturing Business)Yaitu usaha yang mengubah input dasar menjadi produk yang bisa dijual kepada konsumen. Kalau anda bingung, contohnya adalah konveksi yang menghasilkan pakaian jadi atau pengrajin bambu yang menghasilkan mebel, hiasan rumah, souvenir dan sebagainya.

2. Usaha Dagang (Merchandising Business)Adalah usaha yang menjual produk kepada konsumen. Contohnya adalah pusat jajanan tradisional yang menjual segala macam jajanan tradisional atau toko kelontong yang menjual semua kebutuhan sehari-hari.

3. Usaha Jasa (Service Business)Yakni usaha yang menghasilkan jasa, bukan menghasilkan produk atau barang untuk konsumen. Sebagai contoh adalah jasa pengiriman barang atau warung internet (warnet) yang menyediakan alat dan layanan kepada konsumen agar mereka bisa browsing, searching, blogging atau yang lainnya.

Perbedaan Antara UKM Sektor Pertanian dan Industri

Secara teory, perbedaan kinerja UKM di sektor pertanian dengan kinerja UKM di sektor industri pengolahan dapat dijelaskan dengan pendekatan analisis dari sisi penawaran dan sisi permintaan. Dari sisi penawaran, UKM di sektor pertanian (atau usaha pertanian pada umumnya) tidak mengalami supply bottleneck akibat depresiasi rupiah seperti yang banyak dialami oleh UKM di sektor industri pengolahan. Alasan  utamanya adalah karena UKM di sektor pertanian tidak terlalu tergantung pada impor bahan baku dan input lainnya dan juga tidak pada kredit perbankan; sedangkan di sektor industri pengolahan banyak sekali UKM yang memakai bahan baku, alat-alat produksi dan input lainnya yang diimpor, serta yang membiayai produksinya dengan pinjaman dari bank atau dari UB lewat program-program kemitraan usaha yang dipelopori pemerintah pada zaman Soeharto.

Selain itu, selama krisis banyak orang yang di PHK di sektor industri pengolahan, kembali ke desa asalnya dan membuka usaha pertanian skala kecil, komoditi-komoditi pertanian tetap besar, sekalipun pada masa krisis karena orang tetap harus makan; sementara pasar luar negeri semakin terbuka karena daya saing harga dari komoditi-komoditi pertanian di Indonesia mengalami peningkatan pada saat nilai tukar rupiah mengalami penurunan.

Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia

UKM di Indonesia sangat penting terutama dalam penciptaan/pertumbuhan kesempatan kerja, atau sumber pendapatan bagi masyarakat/RT miskin. Hal ini didasarkan pada fakta empiris yang menunjukan bahwa kelompok usaha ini mengerjakan jauh lebih banyak orang dibandingkan jumlah orang yang bekerja di UB. Dalam kelompok UKM juga terdapat perbedaan yang besar antara tingkat pendapatan Ldari UK dibandingkan dari UM. Jumlah L yang diserap oleh UK tahun 200 mencapai 63,5 juta orang dan naik menjadi hampir 65,3 juta orang tahun 2001. Sebagai perbandingan, tahun 2000 UM dan UB hanya menyerap masing-masing 7 juta dan 300 ribu orang lebih, dan pada tahun 2001 hampir mencapai 8 juta dan 400 ribu orang lebih. Sektor ekonomi yang paling banyak menyerap L di UK adalah pertanian, yang pada tahun 2000 jumlahnya mencapai 31.795.114 orang dan tahun 2001 bertambah menjadi 34.079.337 orang.

Pentingnya UKM sebagai salah satu sumber pertumbuhan kesempatan kerja di Indonesia tidak hanya tercermin pada kondisi statis, yakni jumlah orang yang bekerja di kelompok usaha tersebut yang jauh lebih banyak daripada yang  diserap oleh UB, tetapi juga dapat dilihat pada kondisi dinamis, yakni dari laju kenaikannya setiap tahun yang lebih tinggi daripada di UB.

III

PENUTUP

Kesimpulan

Setelah kita ketahui, jadi kesimpulannya usaha kecil merupakan usaha yang mempunyai jumlah tenaga kerja kurang dari 50 orang, atau berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999 kategori usaha kecil adalah yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,00 (tidak termasuk tanah dan bangunan); penjualan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00; milik Warga Negara Indonesia, bukan afiliasi badan usaha lain (berdiri sendiri), dan berbentuk usaha perorangan, badan usaha, atau koperasi.

Selama ini perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia mendapat perhatian serius baik dari pemerintah maupun kalangan masyarakat luas terutama karena kelompok unit usaha tersebut menyumbangkan sangat banyak kesempatan kerja dan oleh karena itu menjadi salah satu sumber penting bagi penciptaan pendapatan.

UKM juga berperan sebagai salah satu sumber penting bagi pertumbuhan PDB dan eksport nonmigas, khususnya ekspor barang-barang manufaktur. Karena pentingnya peran ini, maka secara metodologi, perkembangan UKM di dalam suatu ekonomi selalu diukur dengan tiga indikator, yaitu jumlah L, NO atau NT, dan nilai X dari kelompok usaha tersebut, baik secara absolut maupun relatif terhadap usaha besar (UB).

 

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Usaha_Kecil_dan_Menengah

http://peluangusaha-oke.com/peluang-usaha-kecil-yang-menguntungkan/

http://www.dokterbisnis.net/2009/11/20/3-jenis-usaha-yang-bisa-dilakukan-oleh-ukm-untuk-menghasilkan-laba/

http://www.smecda.com/kajian/files/jurnal/hal_99GB_ok.pdf

Buku “Perekonomian Indonesia (Beberapa Permasalahan Penting)” Bab 7 tettang “Usaha Kecil dan Menengah.”

One thought on “USAHA KECIL DAN MENENGAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s