HAKIKAT TAQWA

Taqwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta tidak cukup diartikan dengan takut saja. Selain itu taqwa juga diartikan membuat penjagaan diri dari sesuatu yang membahayakan dunia dan akhiratnya, atau memposisikan dalam penjagaan Allah, Orang yang demikia disebut orang yang bertaqwa.

Sebagaimana diketahui, bahwa salah satu tujuan dari ibadah, adalah untuk mewujudkan sifat taqwa yaitu ketaqwa yang sempurna, yang prima dan pripurna. Allah SWT dalam Al-Qur’an seringkali memesan dan memerintah agar manusia bertaqwa. Akan tetapi seringkali kita melihat manusia berpaling dari ketaqwaan yang di perintahkan itu. Mereka tidak merasakan manfaat dari taqwa itu, baik untuk dirinya maupun orang lain. Oleh karenanya, tidak ada jalan lain supaya manusia bertaqwa adalah dengan cara memahami makna dan hakikat taqwa itu sendiri. Maksudnya jangan sampai terjadi pengertian slogan saja, atau di jadikan permainan bahasa dan bersifat lidah.

Dalam tafsir Ibnu Kastir 1 : 41, diriwayatkan, bahwa Umar Bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay Bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay balik bertanya kepadanya, pernahkah Engakau lewat di suatu jalan yang banyak duri dan benda-benda membahayakan? Jawab Umar: Ya, tentu pernah. kemudian Ubay meneruskan pertanyaannya. bagaimana yang Engkau lakukan ketika lewat di jalan itu? Umar menjawab, Saya berhati-hati dan bersunggh-sungguh menghadapai bahaya itu!, Ubay berkata: Itulah gambaran taqwa.

Memang kata taqwa itu mudah untuk di ucapkan, tetapi sulit untuk merealisasikan, jika tidak benar-benar paham.

Taqwa terbagi kepada dua bagian, yaitu:

  1. Taqwa secara khusus

Yaitu menjaga diri dari adzab yang akan menimpa dari Allah.

 

  1. Taqwa secara umum

Yaitu, menjaga diri, keluarga, masyrakat, bangsa, negara dan harta kekayaan dari segala marabahaya yang menimpa atau dari segala yang akan merubah tujuan.

Mewujudkan hakikat taqwa

Dalam bukunya Ahlur Rahmah,Syeikh Thaha Abdullahal Afif mengutip ungkapan sahabat Nabi Muhammad saw yakni Ali bin Abi Thalib ra tenteng taqwa, yaitu :

Takut kepada allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang dimuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).

Dari ungkapan diatas, ada empat hakikat taqwa yang harus ada pada diri kita.

Pertama, takut kepada Allah.

Salah satu sikap yang harus ada pada diri kita adalah rasa takut kepada allah swt. Takut kepada allah bukanlah kita takut kepada binatang buas, yang menyebabkan kita harus menjauhinya. Tapi takut kepada Allah swt adalah takut kepada murka, siksa dan azab-Nya sehinga hal-hal yang bisa mendatangkan murka, siksa dan azab allah swt harus kita jauhi. Sedangkan allh swt sendiri harus kita dekati, inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada allah).

Karena itu, orang yang takut kepada Allah swt tidak akan melakukan penyimpangan dari segala ketentuan-Nya. Namun sebagi manusia biasa mungkin saja seseorang melakukan kesalahan, karenanya bila kesalahan dilakukan, dia segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada orang yang dia bersalah kepadanya, bahkan bila ada hak orang lain yang diambilnya, maka dia mau mengembalikannya. Yang lebih hebat lagi, bila kesalahan yang dilakukan ada jenis hukumannya, maka iapun bersedia dihukum sehingga ia tidak menghindar dari hukuman. Allah swt berfirman :

 

 

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”(QS Ali Imran [3]:133)

Seluruh ibadah mendidik kita untuk menjadi orang yang takut kepada Allah swt yang membuat kita akan selalu menyesuaikan diri dengan segala ketentuan-ketentuannya. Kalau kita ukur dari sisi ini, kenyataan akan menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang belum bertaqwa karena tidak ada rasa takutnya kepada Allah swt.

Kedua, manurut Ali bin Abi Thalib Hakikat taqwa adalah beramal berdasarkan wahyu.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar bisa bertaqwa kepada-Nya. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu beramal atau melakukan sesuatu berdasarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt. Yang termasuk wahyu adalah  hadits atau sunnah Rasulullah saw karena ucapan dan perilaku Nabi memang didasari oleh wahyu. Dengan kata lain, seseorang disebut bertaqwa bila melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Ketiga, yang merupakan hakikat taqwa menurut Ali bin Abi Thalib adalah mempersiapkan diri untuk akhirat.

Mati merupakan sesuatu yang pasti terjadi pada setiap orang. Keykinan kita menunjukkan bahwa mati bukanlah akhirdari segalanya, tapi mati justru awal dai kehidupan baru, yakni kehidupan akhirat yang enak dan tidaknya sangat tergatung pada keimanan dan amal shaleh seseorang dalam kehidupan di dunia ini. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu memersiapkan dirinya dalam kehidupan di dunia ini untuk kebahagiaan kehidupan di akhirat.

Kempat, hakikat taqwa menurut Ali bin Abi Thalib adalah Ridha meskipun sedikit.

Setiap kali pasti ingin mendapat khususnya harta dalam jumlah yang banyak sehingga bisa mencukupi diri dan keluarga serta bisa berbagi kepada orang lain. Namun keinginan tidak selalu sejalan dengan kenyataan, ada saat dimana kita mendapat banyak, tapi pada saat lain kita mendapatkan sedikit. Inilah yan disebut dengan qana’ah, sedangkan kekurangan dari apa yang diharapkan bisa dicari lagi dengan penuh kesungguhan dan cara yang halal.

Sebagai contoh tidak adanya sikap ridha menerima yang menjadi haknya, adalah korupsi yang menjadi penyakit bangsa kita hingga sekarang. Akibatnya ia masih saja mengambil hak orang lain.

Allah swt mengingatkan kita semua dalam firman-Nya,

 

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian orang yang lain diantara kamu dengan jalan yang  bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan kebahagiaan daripada harta benda orang itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengtahuinya. (QS Al Baqarah [2]:188)

Ayat-ayat Al-quran tentang Taqwa

Allah Subha Nahu Wa Ta’ala berfirman di dalam surah al-Anfal;

“Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kepadamu ‘furqan’* dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”(al-Anfal:29)

Surah al-Hadid;

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, nescaya Allah memberikan dua bahagian daripada rahmat-Nya kepadamu, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Hadid:28)

surah ath-Talaq;

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Talaq:2-3)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s